Kamis, 01 November 2012

Habib Munzir bin Fuad Abdurrahman Al-Musawa

Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa atau lebih dikenal dengan Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa (lahir di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, 23 Februari 1973; umur 39 tahun - 19 Muharram 1393 H) adalah pimpinan Majelis Rasulullah. Ia merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa. Ayahnya bernama Fuad yang lahir di Palembang dan dibesarkan di Mekkah. Setelah lulus pendidikan jurnalistik di New York University, Amerika Serikat, ayahnya kemudian bekerja sebagai seorang wartawan di harian 'Berita Yudha' yang lalu menjadi Berita buana. Masa kecilnya dihabiskan di daerah Cipanas, Jawa barat bersama-sama saudara-saudaranya, Ramzi, Nabiel Al-Musawa, serta Lulu Musawa. Ayahnya meninggal dunia tahun 1996 dan dimakamkan di Cipanas, Jawa Barat.
Setelah ia menyelesaikan sekolah menengah atas, ia mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bahasa arab di LPBA Assalafy Jakarta timur. Ia memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur, yang kemudian diteruskan ke Ma’had Darul Musthafa di pesantren Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syech abubakar bin Salim di Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994 untuk mendalami bidang syari'ah selama empat tahun. Di sana ia mendalami ilmu fiqh, ilmu tafsir Al Qur'an, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu tauhid, ilmu tasawwuf, mahabbaturrasul, ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.
Habib Munzir Al-Musawa kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah dengan mengunjungi rumah-rumah, duduk dan bercengkerama dengan mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan, lalu atas permintaan mereka maka mulailah Habib Munzir membuka majlis, jumlah hadirin sekitar enam orang, ia terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk, ia tidak mencampuri urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dengan kehidupan yang Nabawiy, kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing masing dg kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam. Majelisnya mengalami pasang surut, awal berdakwah ia memakai kendaraan umum turun naik bus, menggunakan jubah dan surban, serta membawa kitab-kitab. Tak jarang ia mendapat cemoohan dari orang-orang sekitar. Ia bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari murid dan berdakwah. Kini majlis taklim yang diasuhnya setiap malam selasa di Masjid Al-Munawar Pancoran Jakarta Selatan, yang dulu hanya dihadiri tiga sampai enam orang, sudah berjumlah sekitar 30.000 hadirin setiap malam selasa, Habib Munzir sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan sekitarnya, ia juga membuka majelis di rumahnya setiap malam jum’at bertempat di jalan kemiri cidodol kebayoran.
Nama Rasulullah SAW sengaja digunakan untuk nama Majelisnya yaitu “Majelis Rasulullah SAW”, agar apa-apa yang dicita-citakan oleh majelis taklim ini tercapai. Sebab ia berharap, semua jamaahnya bisa meniru dan mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup. Habib Munzir juga rutin melakukan takbir akbar di Istiqlal atau Senayan yang sering dihadiri para pimpinan tertinggi negara Indonesia.

Cerita dari jamaah Majelis Rasulullah tentang Karomah Habib Munzir Al Musawwa
Ketika ada orang yangg iseng bertanya padanya : wahai Habib, bukankah Rasul saw juga punya rumah walau sederhana? beliau tertegun dan menangis, beliau berkata : iya betul, tapikan Rasul saw juga tidak beli tanah, beliau diberi tanah oleh kaum anshar, lalu bersama sama membangun rumah, saya takut dipertanyakan Allah kalau ada orang muslim yang masih berumahkan koran di pinggir jalan dan di gusur gusur, sedangkan bumi menyaksikan saya tenang-tenang dirumah saya..

Pernah ada seorang wali besar di Tarim, guru dari Guru Mulia Al-Musnid Al-Habib Umar bin Hafidh, namanya Habib Abdulqadir Al-Masyhur, ketika Habib Munzir datang menjumpainya, maka Habib itu yang sudah tua renta langsung menangis. Dan berkata : WAHAI MUHAMMAD SAW! , maka Habib Munzir berkata : saya Munzir, nama saya bukan Muhammad, maka Habib itu berkata : ENGKAU MUHAMMAD SAW!, ENGKAU MUHAMMAD SAW!, maka Habib Munzir diam lalu ketika Al-Habib Umar bin Hafidh datang maka segera Al-Habib Abdulqadir Al-Masyhur berkata : wahai Umar, inilah Maula Jawa (Tuan Penguasa Pulau Jawa), maka Al-habib Umar bin Hafidh hanya senyam senyum.(kalo ga percaya boleh tanya pada alumni pertama DM)

lihat kemanapun beliau pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta, bahkan sampai ke pedalaman irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yang sudah ratusan tahun belum dijamah para da’i, ratusan orang yang sudah masuk islam ditangannya, banyak orang bermimpi Rasul saw selalu hadir di majelisnya,

bahkan ada orang wanita dari australia yang selalu mimpi Rasul saw, ia sudah bai’at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa melihat Rasul saw entah kenapa, namun ketika ia hadir di Majelis Habib Munzir di Masjid Al-Munawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah saw..

maka berkata orang itu, sungguh habib yang satu ini adalah Syeikh Futuh ku, dia membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar benar dicintai oleh Rasul saw, kabar itu disampaikan pada habib munzir, dan beliau hanya menunduk malu..

beliau itu masyhur dalam dakwah syariah, namun mastur (menyembunyikan diri) dalam keluasan haqiqah dan makrifahnya. .

bukan orang yg sembarangan mengobral mimpi dan perjumpaan gaibnya ke khalayak umum

ketika orang ramai minta agar Habib Umar Maulakhela didoakan karena sakit, maka beliau tenang-tenang saja, dan berkata : Habib Nofel bin Jindan yang akan wafat, dan Habib Umar Maulakhela masih panjang usianya. benar saja, keesokan harinya Habib Nofel bin Jindan wafat, dan Habib Umar Maulakhela sembuh dan keluar dari opname, itu beberapa tahun yang lalu.

ketika Habib Anis Al-Habsyi Solo sakit keras dan dalam keadaan kritis, orang orang mendesak Habib Munzir untuk menyambangi dan mendoakan Habib Anis, maka beliau berkata pada orang-orang dekatnya, Habib Anis akan sembuh dan keluar dari opname, Insya Allah kira kira masih sebulan lagi usia beliau. Betul saja, Habib Anis sembuh, dan sebulan kemudian wafat..

Ketika Gunung Papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari siaga 1 menjadi “awas”, maka Habib Munzir dengan santai berangkat kesana, sampai ke ujung kawah, berdoa, dan melemparkan jubahnya ke kawah, kawah itu reda hingga kini dan kejadian itu adalah 7 tahun yg lalu (VCD nya disimpan di markas dan dilarang disebarkan)

Demikian pula ketika beliau masuk ke wilayah Beji Depok, yang terkenal dengan sihir dan dukun-dukun jahatnya, maka selesai acara Habib Munzir malam itu, keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitia, ia berkata : saya ingin jumpa dengan tuan guru yang semalam buat maulid disini!, semua masyarakat kaget, karena dia dukun jahat dan tak pernah shalat dan tak mau dekat dengan ulama dan sangat ditakuti, ketika ditanya kenapa? ia berkata : saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap, lalu subuh tadi saya lihat mereka (Jin jin khodam itu) sudah pakai baju putih dan sorban, dan sudah masuk islam, ketika kutanya kenapa kalian masuk islam, dan jadi begini? maka jin-jin ku berkata : apakah juragan tidak tahu? semalam ada Kanjeng Rasulullah saw hadir di acara Habib Munzir, kami masuk islam!

Kejadian serupa di Beji Depok seorang dukun yg mempunyai dua ekor macan jadi jadian yg menjaga rumahnya, malam itu Macan jejadiannya hilang, ia mencarinya, ia menemukan kedua macan jadi-jadian itu sedang duduk bersimpuh didepan pintu masjid mendengarkan ceramah Habib Munzir.

Demikian pula ketika berapa muridnya berangkat ke Kuningan Cirebon, daerah yang terkenal ahli santet dan jago-jago sihirnya, maka Habib Munzir menepuk bahu muridnya dan berkata : MA’ANNABIY! berangkatlah, Rasul saw bersama kalian. maka saat mereka membaca maulid, tiba-tiba terjadi angin ribut yg mengguncang rumah itu dengan dahsyat, lalu mereka minta kepada Allah perlindungan, dan teringat Habib Munzir dalam hatinya, tiba tiba angin ribut reda, dan mereka semua mencium minyak wangi Habib Munzir yang seakan lewat dihadapan mereka, dan terdengarlah ledakan bola bola api diluar rumah yg tak bisa masuk kerumah itu. Ketika mereka pulang mereka cerita pd hb munzir, beliau hanya senyum dan menunduk malu..

Demikian pula pedande-pedande Bali, ketika Habib Munzir kunjung ke Bali, maka berkata muslimin disana, Habib, semua hotel penuh, kami tempatkan Habib ditempat yang dekat dengan kediaman Raja Leak (raja dukun leak) di Bali, maka Habib Munzir senyum-senyum saja, keesokan harinya Raja Leak itu berkata : saya mencium wangi Raja dari pulau Jawa ada disekitar sini semalam..

Demikian pula ketika Habib Munzir dicaci maki dengan sebutan Munzir Ghulam Ahmad , karena ia tidak mau ikut demo anti ahmadiyah, beliau tetap senyum dan bersabar, beliau memilih jalan damai dan membenahi ummat dengan kedamaian daripada kekerasan, dan beliau sudah memaafkan pencaci itu sebelum orang itu minta maaf padanya, bahkan menginstruksikan agar jamaahnya jangan ada yg mengganggu pencaci itu,
kemarin beberapa minggu yang lalu di acara Al-Makmur, Tebet Habib Munzir malah duduk berdampingan dengan si pencaci itu, ia tetap ramah dan sesekali bercanda dengan Da’i yang mencacinya sebagai murtad dan pengikut ahmadiyah.

0 komentar:

Poskan Komentar